Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Featured Post

Menjelajah Keajaiban Taman Safari Indonesia: Wisata Edukasi dan Petualangan Keluarga

  Menjelajah Keajaiban Taman Safari Indonesia: Wisata Edukasi dan Petualangan Keluarga Taman Safari Indonesia adalah destinasi wisata alam dan konservasi satwa liar yang sangat populer di Indonesia. Terletak di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, tempat ini menjadi pilihan utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin merasakan pengalaman unik melihat hewan-hewan eksotis dari dekat dalam habitat semi-alaminya. Selain di Bogor, Taman Safari Indonesia juga memiliki cabang di Prigen, Jawa Timur dan Bali Safari & Marine Park di Gianyar. Keunikan Taman Safari Indonesia Yang membedakan Taman Safari Indonesia dari kebun binatang biasa adalah konsep drive-thru yang memungkinkan pengunjung berkeliling menggunakan kendaraan pribadi atau bus wisata untuk menyaksikan langsung berbagai jenis satwa dari seluruh dunia, seperti singa, harimau, jerapah, zebra, dan gajah. Pengalaman ini memberikan sensasi mendalam seolah-olah sedang melakukan safari di alam liar Afrika. Selain itu, Taman...

Terbanglah Mimpi Setinggi Langit

 Terbanglah Mimpi Setinggi Langit Pagi ini cerah berawan lembut. Memancarkan butiran embun yang tersapu angin. Kadang matahari malu memperlihatkan senyumnya. Hingga hangat mengetuk jendela rumah tuaku. Kulihat ada anak kecil bermain diluar. Naluri anak yang bosan dirumah saja. Ingin rasanya sejenak mengundang teman. Bermain bersama sambil melepas tawa. Hariku penat, ruwet tak terkira. Pikiran semua tugas yang menumpuk dan kabar negara yang tak stabil. Kondisi dompet memungkinkan aku makan tahu tempe. Kadang harus berbagi bersama teman, untuk membagi rasa. Aku seoarang pemimpi. Yang menawarkan jutaan mimpi dalam pikiran. Kuharap mimpi yang kudamba bisa terwujud semua. Terbanglah mimpi setinggi langit.

Kupu - kupu yang Hinggap Pada Bunga

 Kupu - kupu yang Hinggap Pada Bunga Embun waktu itu hinggap pada daun jeruk. Melintang diatasnya dengan paduan sinar mentari. Ditambah kilau jeruk yang menambah rasa segar. Serta taman yang di ujung sana penuh dengan variasi bunga. Diatas kelopak bunga, hingga kupu - kupu indah. Menyeimbangkan badannya dengan mengepakkan sayap bermotif. Alur permainan mutualisme pada bunga dan kupu - kupu. Memberikan sinergi sinkron dalam kehidupan. Terlihat balita yang riang digandeng ibu pada taman ini. Menandakan betapa gembiranya ia dengan jutaan bunga yang merekah. Sampai melihat kupu - kupu yang hinggap pada bunga. Ingin rasanya sang balita berlarian mengejar sang kupu - kupu. Kini hari mulai gelap. Perlahan semua aktifitas usai. Sang kupu - kupu senang dengan sari madu pada bunga yang cantik/ Begitu pun sang bunga, merasa terjaga oleh sang kupu.

Anyaman Dalam Amarah

 Anyaman Dalam Amarah Kala itu aku tak kuasa. Menahan semua rasa ego. Yang terbenam lama nian di lubuk. Hingga kurasa pekat hati ini. Anyaman dalam amarah kian terbentuk. Menampilkan wujud kejahatan dalam diri. Aku lepas kendali, tak terkontrol. Dan tak tahu menahu kepada siapa kulampiaskan. Anyaman dalam amarah kian membentang. Membentuk formasi bak kain selendang. Lepas dan lebar tak terkontrol. Menyapu lepas dan mengudara.

Gelas Kaca Wadah Sebagai Kopi

Gelas Kaca Wadah Sebagai Kopi Kularutkan kopi hitam pekat dalam gelas kaca. Membayangkan besarnya masalah hilang seketika. Ditambahkan gula pasir sebagai pemanis. Seperti hidup, walau pahit pasti ada manis nya. Dalam naungan rembulan, kopi ini bersaksi. Bahwa gelapnya kopi sama seperti redupnya bulan. Namun apakah itu selalu berbahaya? Hitam pekat kopi dan redupnya rembulan apakah begitu menakutkan? Warna sudah mengajarkan adanya hitam dan putih. Cina kuno memberikan aba - aba yin dan yang. Dalam agama adanya hak dan batil. Dan dalam hidup pasti menemukan benar dan salah. Nampaknya semua itu tak menakutkan yang dikira. Rembulan redup, mungkin karena ingin mengalah dengan bintang. Pahit nya kopi, mungkin ingin menunjukkan ada manis didalmnya. Rembulan mengalah, agar ia tetap hidup. Pahitnya kopi mengalah, agar ada nikmat dalam rasa. Begitulah kawan hidup. Pasti ada manis dan pahit. Kita tak bisa mengatur itu semua. Yang kalian rasakan adalah nikmatnya manis dan pahit.

Lelaki Tua Tulang Punggung Keluarga

 Lelaki Tua Tulang Punggung Keluarga Lelaki tua itu mengibas handuk yang tertera pada bahu bungkuknya. Keringatnya begitu deras mengalir pada tubuh yang mulai ringkih. Apa daya ia rela berkorban demi mencukupi kebutuhan. Bukan hanya dirinya saja, melainkan 4 kepala yang ia pikirkan. Jiwamu sekuat baja, memberikan rasa kokoh untuk tidak mengeluh. Badanmu yang ringkih bagai tiang pondasi yang kuat walau diterjang panas. Langkahmu yang terpogoh bak pondasi gedung bertingkat tak oleh jika diterpa gempa. Serta sikapmu yang selembut kapas, putih, dan bersih. Ini adalah pahlawan nyata dalam keluarga. Berjibaku di tengah kota hingar bingar. Ia mampu berjuang dan hidup dalam tekanan. Walau negara ini mungkin menjadi penjara baginya. Yang ia pikirkan bukanlah makanan lezat pinggir jalan. Yang ia pikirkan bukanlah es jeruk segar warung jalanan. Yang ia pikirkan bukanlah kuah bakso yang lezat. Tapi yang ia pikirkan adalah tangis lapar pada anak dan istri. Untukmu lelaki tua tulang punggung kel...

Untukmu yang Sama - Sama Berjuang

 Untukmu yang Sama - Sama Berjuang Ya, pesan ini teruntuk kamu yang sedang merana. Merana karena menahan rindu yang tak tertahan. Merana karena iri dengan orang yang berpasangan. Merana menjalani hidup seperti sendirian. Pesan ini untukmu yang sama - sama berjuang. Berjuang menitih karir bersama. Bermimpi bersama. Sampai sukses di akhir bersama. Untukmu yang sama - sama berjuang. Bersabarlah akan kenyataan. Berat tapi pasti bakal terbayar. Pasti kita akan bersama - sama bergandengan. Untukmu yang sedang berjuang, aku mencintaimu. Dengan segenap hati dan kesabaranku. Dengan segala tingkahmu yang aku rindukan. Dengan segala canda yang kau berikan. Jangan sedih masalah berjuang, disini aku berjuang demi kamu. Aku menghormati kamu yang sabar menunggu. Walau rasa manjamu memberikan ketidak kuatan diriku menahan rindu. Tapi percayalah di hari yang ditentukan pasti akan memberikan momen yang tak terlupakan. Tolong buat kamu yang berjuang bersama - sama. Manfaatkanlah waktu yang ada bersam...

Hantu Negara yang Gaib

 Hantu Negara yang Gaib Kau menyusup pada penguasa. Merasuki orang yang ingin bernegara. Mengacak peradaban yang sudah diperjuagkan nenek moyang. Memporak porandakan tanah jajahan bekas imperialis. Kau menyusup pada insan yang tak tahu apa. Memperbudak untuk melakukan kejahatan negara. Merampas rakyat, yang bukan dari spesies mu. Sungguh kau mengadu domba kan kami terhadap rakyat penguasa. Kau hantu negara yang gaib. Tak terlihat namun terasa bagi kami. Menyusuri pemimpin penjuru negeri. Untuk mencari kepuasaan sesaat. Kau terbahak diatas penderitaan rakyat. Kau peralat penguasa untuk mengambil simpati. Janji adalah bisikkan manis pada pemimpin kami. Hingga rakyat jelata tetaplah jelata.

TIdurlah Anak, Malam Telah Tiba

 TIdurlah Anak, Malam Telah Tiba Kuyup hujan menghujam malam itu. Seketika bunyi jangkrik menghilang. Tak ada kunang - kunang yang menyorot jalan. Hanya kilatan petir setiap beberapa menit. Bapak tua yang mengamati anak diluar sana. Pada kusen tua berkayu yang sudah koyak. Yang menempel pada rembesan tembok. Mengharap anak itu baik - baik saja. Dalam hati bapak ini sedih. Mengingat kerjadian buruk takut terulang. Kejadian yang menimpanya dan anak satu - satunya. Hingga kini masih tak tampak kabar darinya. Seketika terlihat langkah tergesa diluar sana. Sontak bapak, membukakan pintu lantas memeluknya. Sampai berbisik tanda kerinduannya. Dan dibalas pelukan kembali pada sang anak. Pesan bapak dalam hati Tidurlah anak, malam telah tiba. Menutup malam beriringan dengan menutup pintu kamar. Seraya lega hatinya yang satu jam lalu menunggu anak kesayangannya.

Rasanya Mendung Hati Ini

 Rasanya Mendung Hati Ini Tak seperti semanis gula biasanya. Tak seperti kecut asam cuka pada dapur. Tak seperti pahit buah maja. Tak seperti bagus selera makan kini. Kenangan itu mengitari pikiranku. Mengobok - obok segalanya hingga keruh. Gelap nan mengerikan jika dibayangkan. Pilu menerjang sarang paruku. Rasanya mendung hati ini. Banyak kilatan petir yang mengambang. Menggelegar suara gemuruh hantaman. Seraya menahan sakit asam lambung yang naik. Rasanya mendung hati ini. Tak seindah kala itu, mentari selalu pamer. Ditemani teman cantiknya pelangi yang berbinar. Serta awan putih yang ringan seperti kapas.

Bapak Bekerja Hingga ke Pulau Kalimantan

 Bapak Bekerja Hingga ke Pulau Kalimantan Kabarnya sudah 1 bulan lebih aku tak melihatmu. Berlebaran di hari raya nampaknya sudah tak menjadi alasan kembali. Demi mementingkan mencari uang untuk anaknya makan sehari - hari. Demi membesarkan adik untuk menggapai cita - cita nya. Bapak, kami merindukanmu. Kau berjuang dengan apa yang kau punya. Kau bak pahlawan dalam rumah tangga. Menghidupi setiap anggota keluargamu. Sebuah perantauan adalah kisahnya. Pahit dan asam adalah rasa dari merantau. Tak sedikit bapak mengeluh kepanasan. Bahkan ingin merebahkan badan, pun tak bisa. Bapak bekerja hingga ke pulau kalimantan. Pulau yang jauh dari kehidupan hingar bingar kota. Serta kegaduhan kaum elit politik modern. Dan akses yang kurang memadai. Untuk bapak, kini ku beranjak dewasa. Kau sudah menua, sudah saatnya kau beristirahat di ranjang empuk. Membuat kopi panas hitam dan menikmati masa tuamu. Kini, biar aku yang meneruskan perjuanganmu.

Pemimpin Kaya Semakin Berkuasa

 Pemimpin Kaya Semakin Berkuasa Aku mendengar awan menyampaikan pesan. Lewat angin sepoi, yang mengahmpiri beriringan. Langkah pemuda lantang membentuk barisan. Sebagai tanda aspirasi untuk menyampaikan pesan. Blokade aparat kian merapat.  Menjaga gedung perwakilan tempat anggota mengumpat. Meninggalkan para buruh saling lempar hujat. Bentrokan menjadi sebuah habitat. Pemimpin kaya semakin berkuasa. Menundukkan rakyat jelata yang butuh makan untuk keluarga. Hartamu adalah bentuk patungan uang dari kami rakyat jelata. Yang berangsur menjadi harta aibmu yang tak genah dalam bekerja. Pemimpin kaya semakin berkuasa. Membentangkan sayap hitam keseluruh penjuru angkasa. Menumpas rakyat yang tak berdosa. Melambungkan harga pangan yang menjerit dompet jelata.

Merantau Sampai di Ujung Mata

 Merantau Sampai di Ujung Mata Ibu, aku masih mengayuh sepeda tua ini. Melintasi jalan tepian sampai larut senja. Merantau jauh sampai kau tak melihatku. Ini demi cita dan jutaan angan bangsa. Ibu aku pamit, merantau ke kota sebelah. Dengan sepeda motor tua ini bekal dari bapak. Dan segala semangat yang menjadi pondasi kokoh pendirian. Membayangkan mimpi kedepan mau seperti apa. Penuh kisah haru yang kulewati. Kisah yang bercerita pada diriku seorang. Mengenai hidup negri ini. Dan berbagai macam liku bocah rantau. Kini ku sudah tak bisa melihat ibu. Begitu ibu, yang tak lagi menyapaku. Baginya aku sudah merantau sampai di ujung mata. Tak terlihat, namun masih tergiang nasihatmu.

Perhiasanku di Dunia Nyata

 Perhiasanku di Dunia Nyata Bukan sekedar perhiasan, indah ditampakkan. Bukan sekedar permata yang mengkilau. Bukan hanya sekedar karat pada emas. Dan kemurnia dari berlian. Begitu banyak tafsir tentang perhiasaan. Begitu banyak jenis perhiasan yang memukau. Emas, berlian, permata, intan. Ah....indah dan bermakna. Namun, semua itu hanya lah benda. Tak bisa mengerti apa yang di mau pemilik. Hanya ingin pamer dan angkuh pada orang lain. Menyombongkan bentuk indah dan megahnya. Perhiasanku di dunia nyata. Adalah sesoarang wanita cantik yang menjadi mimpiku. Kelak akan kupinang engkau. Dengan mempertemukan kedua keluarga kita.

Saatnya Pergi dari Kota

 Saatnya Pergi dari Kota Pagi berkilau senyum surya. Ditemani dengan teh panas manis rasanya. Dengan roti kecil jajanan rumah. Dengan toppping yang mewah. Kini bersiap, menata tas isi pakaian. Mempersiapkan motor andalan teman perjalanan. Membawa bekal, yang sengaja kulebihkan. Untuk mengisi lapasr ditengah perjalanan. Panas terik kini kulalui. Tak luput dengan debu yang menyertai. Keringat jelas mengucur pada dahi. Namun, tak ada rasa takut untuk melalui. Saatnya pergi dari kota. Merajut mimpi demi menyongsong cita - cita. Rasa sedih turut menggelapkan hati. Namun kutepis dengan angan mimpi.

Rayuan Kicau Burung Senja

 Rayuan Kicau Burung Senja Terdengar sayup didahan pohon. Nyaring menghiasi langit jingga. Ditemani desir ombak yang bergejolak. Serta dahan kelapa yang tertiup angin sepoi. Matahari hendak pergi. Langit gelap mulai menyusul. Sang burung berlindung dalam sarang anyamannya. Hingaa sayup rayuan  kicau burung senja. Pasir putih sudah tak tampak putih. Laut sudah tak tampak biru. Langit sudah tak seindah tadi. Semua berubah, menjadi jingga. Terlihat burung sedang migrasi. Membentuk formasi langit yang indah. Arti sebagai pulang kerumah. Atau malah dalam bahaya.

Bagai Lampu yang Redup

Bagai Lampu yang Redup Semangatku kian membara. Terdorong ego yang tak terhankan. Seraya mengucap dalam batin ini. Bahwa hati ini segera mereda. Kulihat informasi tentangmu. Dari salah satu media ternama. Tertulis jelas seluruh bioadata yang ada. Dan kutahu kapan kau lahir dan dimana. Kini informasi itu menjadi lara. Saat kutahu, semua tak ada. Informasi yang nihil akan dirimu. Seketika hati ini redup. Entah apa yang harus kulakukan. Menangis dalam diri yang tak diumbar. Relung hati ini sektika sakit dan gelap. Bagai lampu yang redup.

Mentari Fajar

Mentari Fajar Kala itu fajar tiba. Menampilkan sinar yang menghiasi cakrawala. Sungguh mempesona. Sinar yang menjulang seluruh angkasa. Kala itu aku masih berumur 6 tahun. Sarapan dengan roti dan seres kesukaanku. Tak lupa dengan film kartun pada zamannya. Menanti mentari fajar menghiasi rumah. Semalam adalah masa istirahat ku yang paling nyaman. Sampai aku menyadari, pagi ini tidak ada bapak. Tak tahu bapak kemana. Karena yang kutahu, bapak sedang pergi kerja. Burung menghiasi langit biru. Bernyanyi dalam satu melodi. Entah siapa yang memimpin. Terdengar nyaring nan merdu.

Kain Mukena yang Kukenakan

Kain Mukena yang Kukenakan Sang fajar kembali merekah. Menampakkan senyum dalam kilauan. Bersahaja menggambarkan bahagia menjalani aktivitas harian. Sambil membelai lembut dengan sinarnya. Suara azan telah berlalu. Kulipat kain mukena yang kukenakan. Sedikit basah dari cipratan air suci tadi. Tenang rasanya setelah memohon ampun. Teringat 10 tahun yang lalu. Saat sang kakek memberikan kain mukena ini. Tak menahu bagaimana caranya sholat. Hingga saat ini ku mencintai kain mukena ini. Terima kasih kakek atas pemberianmu. Kain sederhana ini menunjukkan jalan hidayah. Terima kasih tuhan pencipta alam. Memberikan arti kedamaian dalam lubuk hati.

Puisi : Payung Tempat Berteduh Jahatnya Dunia

Puisi : Payung Tempat Berteduh Jahatnya Dunia Langkah ketakutan sambil kupegang erat. Payung yang melindungi dari sengat panas. Serta hempasan polusi yang bertebangan. Menampar habis wajahku. Kulihat seseorang jauh disana. Tampak sangar dengan kacamata hitamnya. Rambut yang terurai alami dengan terpaan angin. Serta kaos yang compang - camping. Telusuri jalanan ibu kota. Memandang kilauan kaca gedung. Tak kuasa menahan, ku palingkan wajah ini menjauh. Sambil mengucap kata perih. Aku merasa aman disini. Dengan payung tuaku yang dibelikan bapak. Payung yang menghalau terik panas dunia. Serta payung tempat berteduh jahatnya dunia. Setidaknya dengan ini aku mempunyai alat beladiri. Jika saja ada orang yang berani macam - macam denganku. Langsung kulipat payung ini. Dan kulayangkan payungku ke penjahat itu.

Intan yang Berkilau Tiada Dua

Intan yang Berkilau Tiada Dua Semua orang memiliki benda berharga. Tak ternilai bahkan enggan untuk dipamerkan secara umum. Disimpan sebaik mungkin tak boleh sedikitpun orang lain menyentuhnya. Benar - benar menganggap barang ini permata dunia. Beda denganku. Mungkin ini akan menjadi segalanya, barang termahal pun tak menjamin. Ini akan menjadi penentu masa depan ku seperti apa. Mendampingi serta memotivasi diriku. Nilainya lebih dari permata. Keindahannya bagai intan yang berkilau tiada dua. Karatnya begitu besar sehingga sangat mewah. Dan jelas memiliki nilai mewah bagi pemilik. Kau adalah intan yang berkilau tiada dua. Sekalipun sinar matahari tak hadir. Namun kau masih menyombongkan keindahanmu. Dengan segala angkuhmu aku percaya, bahwa kau benar - benar berharga.

Rinduku Masih Disini Menunggumu

Rinduku Masih Disini Menunggumu Pagi menjelang malam.  Sesi kehidupan kian berputar. Bumi berotasi setia pada garisnya. Sampai kami lupa waktu yang kian berlalu. Rinduku masih disini menunggumu dengan duduk ayem. Menanti raut muka mu, yang mengisi kalbu. Suara yang unik serta dekapan hangat yang ku damba. Seolah mengayun melodi berjalan dalam benak. Engkau dimana, saat kurindukan dekap. Jangan sisakan bayangan yang hampa. Tanpa ada wangi khas yang kuhirup. Dan jemari yang ku genggam kosong. Rinduku masih disini menunggumu. Dengan segala harapan ku menanti. Kutunggu kabar baik yang menghampiri. Ku akan setia disini dengan  halusinasi mu.