Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Featured Post

Menjelajah Keajaiban Taman Safari Indonesia: Wisata Edukasi dan Petualangan Keluarga

  Menjelajah Keajaiban Taman Safari Indonesia: Wisata Edukasi dan Petualangan Keluarga Taman Safari Indonesia adalah destinasi wisata alam dan konservasi satwa liar yang sangat populer di Indonesia. Terletak di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, tempat ini menjadi pilihan utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin merasakan pengalaman unik melihat hewan-hewan eksotis dari dekat dalam habitat semi-alaminya. Selain di Bogor, Taman Safari Indonesia juga memiliki cabang di Prigen, Jawa Timur dan Bali Safari & Marine Park di Gianyar. Keunikan Taman Safari Indonesia Yang membedakan Taman Safari Indonesia dari kebun binatang biasa adalah konsep drive-thru yang memungkinkan pengunjung berkeliling menggunakan kendaraan pribadi atau bus wisata untuk menyaksikan langsung berbagai jenis satwa dari seluruh dunia, seperti singa, harimau, jerapah, zebra, dan gajah. Pengalaman ini memberikan sensasi mendalam seolah-olah sedang melakukan safari di alam liar Afrika. Selain itu, Taman...

Selimut Jingga

Selimut Jingga Kaa itu aku bermain bersama anakku. Sesekali bercengkrama dan saling bercanda. Dia tampak kegirangan. Dengan aksi menghiburku. Walau bagiku mungkin tak cukup lucu. Disamping ku ditemani oleh istri cantik. Senyum manis selalu menjadi bahan keseharianku. Manis nan cantik adalah bahan dasar wajah itu. Sudah kupinang semenjak 2 tahun silam. Kehidupan kecilku serasa indah. Berasa cukup walau terlihat biasa. Gubuk usang ini menjadi saksi perjalanan. Ditemani dengan selimut alam jingga. Menghiasi alam yang penuh makna. Tak pernah berhenti ku ucap syukur. Selimut jingga yang begitu mempesona alam. Sebagai bentuk figura alam yang gagah. Baca Juga : Alun - Alun Kota

Hujan

Hujan Kupikir indahmu akan akan abadi. Ditambah senyuman mentari yang manja. Membawa naluri pelangi yang semakin elok. Serta daun - daun kering yang berjatuhan. Itu hanya fatamorgana belaka. Sebuah anganku yang kembali mengembang. Mengingat masa itu, yang tak bisa ku ungkiri. Manis, namun hanya kenangan manis yang selalu tertanam di bekakku. Kaca yang menghadap teras mengembun. Langit nampaknya mulai tak bersahaja. Sesekali mengejutkan dengan kilau sinar. Berhembus angin kencang malam itu. Serasa awan hitam memanggil. Hujan seketika tiba mengguyur. Menyiram bumi yang sudah 1 bulan belakang tidak hujan. Hasil dari perubahan siklus yang selalu berproses. Kenangan itu membanjiri ingatan ku. Semakin kuingat, kepala ini semakin sakit. Kuharap hujan ini yang menjadi saksi. Sekaligus tanda pengingat dalam diri. Baca Juga : Bayang Mu

Alun - Alun Kota

Alun - Alun Kota Udara dingin yang berhembus memberi isyarat petunjuk. Harum jajanan sepanjang jalan membuat keroncongan isi perut. Ditambah pelukan hangat menambah arti kenyamanan. Bercengkrama diatas motor yang semakin manis suasana. Di tepian jalan, kusenderkan motor dengan standar miring. Berjalan bergandengan melintasi jalan yang ramai. Bergandeng tangan mungil yang selalu ku rindu. Kucium dan hafal betul aroma ini. Alun - alun kota. Lampu jalan beramai - ramai menyorak. Menghidupkan taman yang gelap nan mengerikan. Menjadi kisah cinta yang abadi dengan kekasih. Bercanda dan bergurau menjadi bahasan utama. Memandang langit gelap secara bersama. Sambil menghabiskan pentol pedas yang di pegang. Menjadi saksi kisah perjalanan cinta yang tak mudah. Disini, kita saling memuaskan rasa rindu. Berjarak membuat rintangan dan batasan kita terhalang. Alun - alun kota semua batasan itu hilang. Membawa kisah cinta yang penuh bumbu manis. Baca Juga : Senyuman Manis Itu 

Rapuh

Rapuh Semua saraf diriku mati. Terpukul atas suatu dilema yang mengerikan. Membuatku semakin terpuruk dan buruk. Hingga ingatan ini memutar setiap rekaman kelam itu. Kala itu diriku terkoyak habis. Rapuh dan punya gairah hidup. Seraya menangis atas penyesalan 2 tahun lalu. Rekaman memori yang tergiang terus berputar dalam ingatan kecil. Pahit sekali hidup ini. Buruk kala aku berkaca pada cermin tua. Seraya memaki diriku yang tak pantas  Hina adalah sketsa gambaran hidupku. Ya, kini aku terpuruk. Jauh tenggalam dalam samudra penyesalan. Tak bisa mengarungi derasnya samudra, serta ombak dahsyat dalam palung. Aku rapuh. Benci dalam hati tertanam subur dalam diri. Hasutan kecil yang memancing nafsu kian bergejolak. Dendam adalah teman baikku. Dan itu semua kurasa baik bagiku. Baca Juga : Lekas Pulih 

Sang Ayam Jago

Sang Ayam Jago Sang fajar mulai melirik kala itu. Membawa kilau mentari yang membuat bumi terang. Azan subuh menjadi alunan merdu. Menggemakan langit bumi memuji kebesaran Tuhan. Gagah berdiri disamping tepian danau. Mengibaskan bertanda sang penguasa. Membuat ciut semua lawan yang ada. Memamerkan bulu usang namun lebat di sekujur tubuh. Mencakar - cakar tanah di kala petang. Seraya membungkukkan kepala. Mematok, sambil mengais makanan yang ada. Sesekali mengebas sayap lebat. Berkokok mengiringi menjelang petang. Langit yang hitam, kini tampak awan putih. Dengan rombongan burung yang mengangkasa. Serta suara bising kendaraan yang mulai terdengar di ujung jalan. Berkokok melantangkan suara sang ayam jago. Seraya mengibaskan sayap penuh bulu yang usang. Berjatuhan bulu lebat yang menghiasi pengisi suara petang. Sambil mnecari lawan yang siap untuk beradu. Baca Juga yang Lainnya : Diktator

Diktator

Diktator Terjebak dalam lubang hitam pekat. Mengais rampasan hak yang tidak wajar. Rakus adalah cara dia tempuh. Kenyang adalah salah satu akhir visi. Naluri kemanusiaan dikesampingkan. Mengedepankan kebutuhan dewan. Bukti konkret dalam ke - diktator - an. Janji - janji adalah sebuah angan  Tak pandang kaum yang meringkuk dalam gubuk rapuh. Menangis dalam balutan kesengsaraan. Prihatin terhadap perekonomian rumah tangga. Lemah semakin menjalar. Program kerja sudah lama di gaungkan. Kerja nyata adalah cara menarik simpati hati rakyat. Kata itu tak semanis realita. Justru pahit dalam keadaan realita. Baca juga : Sajak Diktator Kecil Karya Fadli Zon

Halusinasi

Halusinasi Terbang tinggi menembus batas. Seraya merasa melayang - layang. Nyaman dan tak ada tara. Melayang berembus mengikuti alur angin. Bak seorang yang memiliki jutaan mimpi. Satu demi satu mimpi terwujud. Seakan memberikan kesempatan. Bahwa hidup hanya dalam mimpi tanpa ada perjuangan. Tak merasa sulit untuk dilalui. Mengambang dalam jutaan mimpi yang tak terungkap. Dalam permainan akal halusinasi. Tak pernah surut dan selalu berandai. Aku salah dalam menilai. Halusinasi yang kian menjamah diriku, mematikan semua saraf. Tak berdaya ku kini, saraf gerak ku mati. Tak ada kekuatan bangkit, hanya halusinasi yang terbang mengangkasa. Baca Juga : Di antara Halusinasi dan Mimpi

Lentera Pagi

Lentera Pagi Seharum embun pagi yang semerbak. Hawa dingin yang menyapu lembut tubuh. Kicauan burung menari diatas dahan pepohonan. Alam masih kental dengan selimut gelap. Di tepi jalan lentera pagi menyala. Menyinari rumah tua, yang lekang dengan zaman. Nyala yang damai, sayup dihantam angin semilir. Sederhana, namun indah dimata. Jalan sayup oleh kendaraan. Terkadang bising suara silih bergantian. Ditambah sapa manusia yang saling kenal. Hangat dan penuh makna. Azan berkumandang indah nian. Memanggil setiap insan yang sibuk dengan tidurnya. Terbawa alunan azan yang berkumandang. Menyusuri jalanan yang penuh lentera.

Senyuman Manis Itu

Senyuman Manis Itu Yah, lagi ku lihat senyumanmu itu. Nampak bahagia yang kau rasa kini. Langitu biru turut menyertai tipis bibir mu. Bak pohon hijau yang rindang permai. Kau lontarkan senyuman itu. Senyuman yang aku rindu saat letih beraktifitas. Senyuman manis itu yang menghiasi penat pikiran. Juga mengisi hati yang resah akan beban kehidupan. Sikapmu yang manja kekanak - kanakan. Memberikan tawa tersendiri bagiku. Arti dalam semua ini adalah bahagia. Bahagia memiliki mu seorang. Pertahankan rasa ini. Semua sikapmu kepadaku. Yang memberikan energi penyegar dalam hidup. Sehingga aku tak bosan bersamamu.

Terjebak

Terjebak Aku terjebak. Dalam keheningan yang nestapa. Buruk nian kondisi ini. Bak tak ada hasrat yang ku punya. Seraya berteriak, tanda amarah. Mencampur pilu dalam setiap luka. Benturan tubuh dengan benda keras. Bertanda terpukul diri ku. Sedih dalam balutan amarah. Seakan tak terkontrol api kebencian. Selalu menggebu tak pernah surut. Hingga larut malam kurasa. Aku terjebak. Dalam lingkaran api yang bergejolak. Setan tertawa. Seakan aku adalah bangsa nya.

Lekas Pulih

Lekas Pulih Membara dalam hati. Siap menghujam dengan tindakan ini. Mungkin kata tak bisa mewakili. Namun sikap ini cukup sebagai bukti. Luka yang engkau berikan. Dalam, tak terlihat dan tak berdarah. Luka mu cukup dalam. Sehingga aku hanya memendam rasa ini. Berharap lekas pulih. Semua luka yang engkau berikan. Beribu perban dan obat merah disiapkan. Tak sanggup mengobati sesasaat.

Masalah Keadaan

Masalah Keadaan Kamu merasa iri dengan keadaan ini? Merasakan perbedaan dengan orang lain disamping mu? Dan hal ini yang membuat mu mengadu pada ku? Memberikan rasa amarah mu kepada ku? Sayang, kita berjarak. Kita jauh dari ujung pulau ini. Kita jauh dari penglihatan sepasang mata kita. Tapi, hati ini selalu dekat dengan mu. Ini masalah keadaan saat ini. Berjarak bukan berarti kita tak ada hubunga. Berjarak akan membawa kita semakin kuat. Sebab dari perjalanan ini, kita bisa meraih cita  - cita kedepannya. Aku mohon, anggap aja sebagai rintangan. Mencoba untuk saling bersama menghadapi. Jangan sepihak. Dan tetap bersama.

Tanyakan

Tanyakan Hari ini masih keingat yang dulu. Malam hari itu menjadi hening. Kaki pun sudah lemas dan ingin copot. Hati ini pun resah tanpa mu. Ada apa dengan dirimu? Malam ini berbeda, tanpa dirimu. Kusampaikan salam untuk rembulan. Berharap kau bisa tidur pulas sampe esok hari. Pagi buta ku terbangun. Melihat notifikasi dari. Kosong. Nampaknya dia masih enggan dengan ku. Tanyakan apa salahku? Mengapa dirimu secara tiba - tiba menjadi dingin? Aku tak bisa diskusi dengan mu. Coba turunkan ego mu.