Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Featured Post

Menjelajah Keajaiban Taman Safari Indonesia: Wisata Edukasi dan Petualangan Keluarga

  Menjelajah Keajaiban Taman Safari Indonesia: Wisata Edukasi dan Petualangan Keluarga Taman Safari Indonesia adalah destinasi wisata alam dan konservasi satwa liar yang sangat populer di Indonesia. Terletak di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, tempat ini menjadi pilihan utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin merasakan pengalaman unik melihat hewan-hewan eksotis dari dekat dalam habitat semi-alaminya. Selain di Bogor, Taman Safari Indonesia juga memiliki cabang di Prigen, Jawa Timur dan Bali Safari & Marine Park di Gianyar. Keunikan Taman Safari Indonesia Yang membedakan Taman Safari Indonesia dari kebun binatang biasa adalah konsep drive-thru yang memungkinkan pengunjung berkeliling menggunakan kendaraan pribadi atau bus wisata untuk menyaksikan langsung berbagai jenis satwa dari seluruh dunia, seperti singa, harimau, jerapah, zebra, dan gajah. Pengalaman ini memberikan sensasi mendalam seolah-olah sedang melakukan safari di alam liar Afrika. Selain itu, Taman...

Hamparan Gedung dan Tandusnya Tanah

 Hamparan Gedung dan Tandusnya Tanah Kian berlomba mempertinggi gedung. Seolah menandakan kekuasaan dan ke angkuhan. Berdiri dengan tembok beton tebal. Dan lampu yang gemerlap pada malam hari. Tempat ini dijadikan tempat persembunyian pejabat. Bersembunyi dalam dunia politik yang gelap. Yang menjerumuskan keluarga bahkan negara. Pengerat dan merugikan negara hingga kedepannya. Disebrang sana terlihat sepetak sawah. Sawah yang sudah mengunin, siap untuk panen. Melawan tinggi nya gedung yang mencakar bumi. Lumpur sawah yang tak sebersih lobby utama. Irigasi yang terganggu. Sungai yang tercemar dengan limbah. Menyayat hati para petani. Tak kebagian tanah sawah. Hamparan gedung dan tandusnya tanah. Potret ibu kota yang kian mencekam. Hamparan sawah berubah bentuk. Dan beralih fungsi menjadi metropolitan.

Keniscayaan yang Menggantung

 Keniscayaan yang Menggantung Pasar riuh dengan suara aktivitas pagi. Harga pangan yang tak terkontrol. Membuat ibu pasar kian meronta. Terbelit harga sembako yang melambung. Situasi yang kian panas. Saling menjatuhkan tanpa ada pertolongan. Enggan memberikan uluran tangan. Sampai korban berjatuhan. Dilema dengan pemikiran kotor. Tentang negara yang kaya ini. Koruptor berkeliaran mencari mangsa. Utang negara yang tak terkontrol. Ada sebuah permainan dibalik layar. Tanpa penonton harus tahu. Dalang yang mengetahui semua alur. Kian rakus menjerat hak jelata. Keniscayaan yang menggantung. Terkesan tak acuh terhadap siapapun. Mengetahui bobrok dan akal serakah. Yang tak sesuai dengan realita nya.

Halaman Rumah

 Halaman Rumah Rumah itu kemilau dibalik embun pagi. Tampak meluas sebuah pekarangan yang permai. Tampak Hijau dan lentik bunga berseri. Bagai taman surga tempat berteduh bidadari. Ayunan yang sudah termakan usia tampak kokoh. Cat warna kala aku kecil masih membekas dan rapih. Menggambarkan begitu bahagia masa kecil yang indah. Dengan segala kenangan masa kecil yang ada. Aku rindu halaman rumah. Kurindu seisi rumah. Anak istri, dan orangtua yang kutinggal merantau jauh. Wangi pepohonan dan bunga yang meneduhkan ruhyah. Kisah dulu menjadi saksi di halaman rumah. Berkumpul bersama teman sejawat berbagi kisah. Bermain layangan yang terbang menembus angkasa. Dibawah pohon rindang dekat halam rumah.

Kurindu Nyanyian Desa

 Kurindu Nyanyian Desa Pagi berganti malam. Perputaran rotasi dengan aktifitas kesibukkan. Berlomba mencari jabatan tertinggi. Mencari uang demi perut kenyang. Ditengah kemacetan kota. Ku ingat senandung burung berlomba menyanyi. Di tengah hamparan sawah lebar. Milik pak sabar yang hijau permai. Angin berhembus menggerakkan orang sawah. Menipu dan menakuti burung yang hinggap. Gubuk rotan ditengah sawah. Tersapu angin hampir goyang. Teringat istri dan anak di rumah. Hidup jauh di antara kota dan desa. Hidup ini tak berkesudahan. Tak ada ujung dari tujuan. Tangis tak luput menyertai. Isak tangis yang menghujam penuh rindu. Ku tinggalkan sepetak sawahku. Kurindu nyanyian desa.

Hati Ini Paten Untukmu

 Hati Ini Paten Untukmu Tak ada alasan untuk berpaling. Tak ada pikiran untuk menjauh. Hasutan dan cobaaan semakin mencaci. Tapi tak satu pun menggoyahkanku. Hatiku paten untukmu. Setiap kurindu dirimu. Senyum dan tawamu. Semua ada padamu. Hati ini paten untukmu. Tak ada yang lain dirimu seorang. Nyaman bersamamu alasan kuatku, Serta kau menjadi wadah rinduku. Hari berganti. Tiap hari kunanti. Untuk demi melihatmu. Untuk melihat kau pakai baju apa. Sudahlah tak perlu kujelaskan. Sudah cukup deskripsi untukmu. Sudah cukup hati ini menahan rindu. Hati ini paten Untukmu  -Tari-

Lelaki Tua dengan Jaket Hijau

 Lelaki Tua dengan Jaket Hijau Hari mulai damai. Setelah kemarin hujan mengguyur malang. Dingin hawa yang mengudara. Tak luput dari indra perasa. Malam hari sedikit cahaya. Kebanyakkan dari hias kendaraan berlalu lalang. Ia menjaga tempat pecel di ujung jalan. Dengan memakai jaket hijau yang berkilau di malam. Tampak ia kesulitan memberhentikan lalu lintas. Demi pekerjaan halal dimalam hari. Ya, ini lah sumber pendapatannya. Tua bukan masalah baginya. Sesekali ia hitung pundi rupiah. Tak seberapa, namun bisa mengisi lapar. Malam hari terasa makin ramai. Begitu upah yang ia terima kelak. Lelaki tua dengan jaket hijau kemilau di malam hari. Aku biasa memanggilnya pak rompi hijau. Walau pekerjaannya tak seberapa penting. Tapi ia tetap menggunakan seragam rapih pada malam hari.

Terbangun Ditengah Malam

Terbangun Ditengah Malam Bingung tak tahu menahu. Menoleh jam beker pada meja. Seketika hawa dingin hadir. Menembus kaos tipis lengan panjangku. Kuambil segelas air putih. Menenangkan pikiran dan refleksi. Serak kering tenggorokan ini. Langkah mengayun tak terkendali. Rasa lapar pun tidak. Haus pun tidak. Sontak teringat pada rumah. Rindu akan masakan ibu. Aku terbangun ditengah malam. Mengecek jendela tertutup rapat. Hawa dingin yang kurasa. Semakin mencekam memperburuk keadaan.

Suci Lahir Besar Berdosa

 Suci Lahir Besar Berdosa Isak tangis ku tergiang dalam rumah sederhana. Kain bedong tipis yang menjadi penutup pertamaku. Kain penghias bentuk badan merahku. Hanya tampak senyuman dari malaikat yang bahagia. Keseharianku penuh dengan tawa. Bermain dengan siapa pun yang kuajak riang. Tanpa memandang usia bermain tak henti. Dalam benakku dunia ini tempat bermain. Waktu kian berlalu. Media komunikasi sudah tak pakai burung. Mobil kapsul dulu sudah tidak ada. Motor vespa dengan asap yang ngebul pun tak ada. Kini ku sudah beranjak dewasa. Tertawa dalam keluarga kecil. Dan mengisahkan hal lelucon pada anak. Sampai berfikir begitu cepat waktu berjalan. Masa kanak - kanak sudah tertinggal jauh. Kini, kutuliskan cerita lanjutan dalam hidup. Mengingat masa kecil yang suci. Dan besarku kini hanyalah rangkaian dosa yang ada. Terbayang begitu lampau kulalui. Terbayang semua hal yang kulalui. Menjadi sebuah rentetan perjalanan. Dari masa suci lahir hingga besar berdosa.

Terlena Dalam Fanatik Dunia

 Terlena Dalam Fanatik Dunia Dunia indah bagi yang berharta. Dunia indah bagi yang berpangkat. Dunia indah bagi penguasa. Dunia indah bagi koruptor kelas kakap. Baginya ini adalah surga. Ladang emas yang ia impikan. Bagaikan permaisuri yang cantik. Sebagai tujuan dan impiannya. Nampaknya dunia sedang tidak menunjukkan dirinya. Dunia adalah hiasan bagi makhluk hidup. Yang dulu indah tapi disalahgunakan. Kekacauan berdatangan dari pengisi dunia. Terlarut jauh dari kata kebenaran. Terlena dalam fanatik dunia yang indah. Tanpa disadari bahwa dunia adalah tempat singgah. Bagi yang tak mempersiapkan jati diri dihadapan tuhan.

Terbentang Berita Yang Tak Enak

 Terbentang Berita Yang Tak Enak Burung berkicau beriringan. Pohon tua menahan hempasan angin. Laut yang bergemuruh ingin rasanya ketepian. Hingga perputaran siang ke gelap. Hari rasa suram. Tak ada cahaya yang menerangkan jalan. Bulan hanya menunjukkan redup cahaya. Matahari tak lagi hadir. Kudengar pada demonstran memuncak. Hari demi hari kian bergelora. Membakar jiwa muda yang berpendidikan. Demi hak dan nyawa rakyat jelata. Kronis di negara sendiri. Saat terbentang berita yang tak enak. Menggambarkan suasana yang semakin mencekam. Bukan bumi yang murka, tapi egoisme diri manusia. Tak ada jalan untuk menepi. Kian terjerumus dibalik dunia gelap. Seakan semuanya buta tak tampak. Tangis rakyat kian meronta.

Petani Sedih Melihat Sawah Tergerus

 Petani Sedih Melihat Sawah Tergerus Petani riang pergi ke sawah. Membawa makanan yang disusun rapi pada rantang besi. Untuk bekalnya pada pagi dan terik siang. Tersenyum kepada sawah hijau milikinya. Kala itu ia beristirahat di bawah pohon rindang. Sambil mengayunkan caping yang terlihat kusam. Keringatnya membasahi kaus dalam pakaian. Kakinya yang kusam akibat seharian dibalut lumpur tanah. Peradaban kian berubah. Luluh hati petani melihat sawah yang tergerus. Gedung tinggi yang berkilau kaca tak jauh dari sawahnya. Kerbau yang singgah pun tak ada lagi. Petani sedih melihat sawah tergerus. Tak ada kedamaian melainkan bising. Tak ada lumpur tanah yang membalutnya, tapi aspal tebal yang panas. Tak ada pohon rindang tempat ia istirahat melainkan mall yang berjejer rapih.

Gadis Cantik Penghias Hati

 Gadis Cantik Penghias Hati Halo, selamat pagi sayang. Wajah kilaumu semalem masih ada. Rambut panjangmu yang berantakan menutupi mata panda. Tingkahmu yang seolah membuatku semakin merpata denganmu. Kubuka jendela sirkulasi udara pagi. Di ujung sana sudah ada orang berlalu lalang. Lalu tubuh ini tak kuasa melakukan kerja dihari pertama. Berkat seorang gadis yang masih selimutan dengan lucunya. Hatiku terasa berisi olehnya. Menghias hati ini yang dulu pekat dengan masalah. Seakan tak ada gairah hidup menjalani. Dan tanpa ada imbauan dari gadisku yang amat kucinta. Berlalu biarlah usai. Kini diriku sudah mendapatkan dirimu. Kekasih yang menamani perjalanan hidupku kelak. Yang sama - sama berjalan diatas peluk dan cinta.