Kemenangan Sudah Di Ujung Jalan Berbagai peristiwa yang sudah dilewati. Berbagai dilema yang sudah dirasakan. Berbagai rasa yang sudah dicampur adukkan. Berbagai drama yang kini masih ada. Oh nampaknya tidak berkesudahan. Pola hidup yang tiap meroda. Tak tampak ujung sepertinya. Tak ada batas akhir disana. Namun, kian lama makin terasa. Kemenangan yang kian ditunggu semakin nyata. Kemenangan yang sudah di ujung jalan. Oh rasanya kita harus bersama. Jarak yang sudah memisahkan seharusnya tidak ada lagi. Komunikasi melalui seluler seharusnya sudah kian berkurang. Saling menatap akan menjadi kebiasaan. Saat rindu kita berdua disatukan.
Lelaki Tua Tulang Punggung Keluarga
Lelaki tua itu mengibas handuk yang tertera pada bahu bungkuknya.
Keringatnya begitu deras mengalir pada tubuh yang mulai ringkih.
Apa daya ia rela berkorban demi mencukupi kebutuhan.
Bukan hanya dirinya saja, melainkan 4 kepala yang ia pikirkan.
Jiwamu sekuat baja, memberikan rasa kokoh untuk tidak mengeluh.
Badanmu yang ringkih bagai tiang pondasi yang kuat walau diterjang panas.
Langkahmu yang terpogoh bak pondasi gedung bertingkat tak oleh jika diterpa gempa.
Serta sikapmu yang selembut kapas, putih, dan bersih.
Ini adalah pahlawan nyata dalam keluarga.
Berjibaku di tengah kota hingar bingar.
Ia mampu berjuang dan hidup dalam tekanan.
Walau negara ini mungkin menjadi penjara baginya.
Yang ia pikirkan bukanlah makanan lezat pinggir jalan.
Yang ia pikirkan bukanlah es jeruk segar warung jalanan.
Yang ia pikirkan bukanlah kuah bakso yang lezat.
Tapi yang ia pikirkan adalah tangis lapar pada anak dan istri.
Untukmu lelaki tua tulang punggung keluarga.
Terima kasih engkau telah menyentuh hati kami.
Terima kasih engkau telah memberikan pelajaran yang mahal.
Terima kasih untuk setiap bapak di dunia. Engkau hebat!
Komentar
Posting Komentar