Cerpen : Perjalanan Hidup Ku
Aku dibesarkan
dari orang tua yang cukup sabar. Beliau sangat hebat dalam mengurusku. Bukan hanya
diriku, nampaknya ada 4 saudara kandung. 3 diantaranya merupakan kakak aku, dan
1 nya merupakan adikku. Aku dibesarkan pada suatu tempat perantauan. Dimana tempat
yang membuat besar nama bapak ku. Tempat kerja nya. Ada pada perusahaan
pembangkit yang kini merupakan pembangkit terbesar dan terkenal di Indonesia.
Dulu aku tak
tahu informasi tentang bapak ku bekerja disana. Yang kutahu hanyalah bermain
dengan teman – teman ku. Tapi sekarang, aku sebagai anak nya merasa bangga. Aku
bangga dengan bapak yang dulu ikut membesarkan perusahaan pembangkit terbesar
di Indonesia. Namun rasa bangga ku tak cukup hanya ucapan. Atau bahkan hanya
angan.
Mimpi yang menjadi bayangan tak kasat mata. Tak terlihat. Aku harus
menunjukkan arti bangga itu seperti apa. Arti dari bangga terhadap bapak ku
yang sekarang wajib aku emban. Dengan belajar yang pintar dan berpresastasi di
sekolah. Bapak ku sewaktu bekerja di sana, aku terbiasa diantar dengan motor
beliau.
Berangkat pukul pagi 6.00 WIB merupakan hal
yang menakjubkan. Mungkin sepi dari banyak orang. Orang – orang masih nyaman di
kasurnya. Tapi bapak dan aku berbeda. Aku dan bapakku berangkat pagi karena
kami disiplin. Bukan aku. Tapi bapak ku yang mengajarkannya pada ku. Kebiasaan ku
disiplin sekarang sangat membekas bagi ku.
Berkat bapak, kebiasaan itu membawakan prestasi bagi ku. Disiplin merupakan sikap yang mana terbiasa akan tepat waktu. Dan secara tidak langsung itu berguna buat ku. Terima kasih pak! Waktu kian beranjak, dengan motor lawas yang dibawa nya, kami menyusuri tempat yang tak asing. Sepi. Namun disini aku dan bapak dihibur dengan udara yang amat sejuk.
Berkat bapak, kebiasaan itu membawakan prestasi bagi ku. Disiplin merupakan sikap yang mana terbiasa akan tepat waktu. Dan secara tidak langsung itu berguna buat ku. Terima kasih pak! Waktu kian beranjak, dengan motor lawas yang dibawa nya, kami menyusuri tempat yang tak asing. Sepi. Namun disini aku dan bapak dihibur dengan udara yang amat sejuk.
10 menit
menyusuri, kini kita tiba. Tempat yang selalu aku damba. Tempat kita bisa
bermain dengan teman – teman. Ya, sekolah dasar. Banyak ilmu yang ibu dan bapak
ajarkan dalam pendidikan. Dan setiap guru, aku sangat kenal sifatnya. Mulai dari
bapak guru yang galak, ibu guru yang baik, dan bapak guru yang menghibur.
Selain
ilmu yang bisa aku ambil, dalam pendidikan juga ada pendidikan moral, etika
terhadap teman dan guru. Selain itu apalagi? Tentu saja bermain. Disekolah ini
juga menajdi tempat untuk aku bermain dengan teman – teman. Menemukan hal baru
yang tak aku jumpai dalam lingkup keluarga. Merasakan kebersamaan, saling
merasakan kesenangan bersama, dan duka bersama. Aku kenal dengan semua teman
satu angkatan ku. Atau bisa dibilang aku memang
anak yang popular di sekolah dasar.
Jadi, waktu
aku duduk di bangku 3 SD, aku ingin menjadi pemimpin upacara. Dengan baju putih
yang gagah, serta kopiah hitam dengan tempelan garuda berwarna emas dan suara
yang lantang di pagi hari, memecahkan kehangantan sinar mentari pagi. Ya,
pemimpin upacara merupakan pemimpin yang menjalankan kegiatan upcara. Dan dari
kelas 1 – 6 pun menyaksikan siapa yang menjadi pemimpin upacara.
Disini lah, jika menjadi pemimpin upacara pasti dikenal satu sekolah an. Pada saat pendaftaran, aku mengajukan diri dengan alasan ku diatas. Dan pada saat itu ada bapak guru yang bernama Guyup Suroso, beliau merupakan guru terbaik dan terlucu selama hidup ku. Beliau juga sebagai pendengar yang baik dan memberi masukan bagi ku. Jadi untuk pertama kali nya aku mendaftarkan diriku sebagai pemimpin upacara.
Disini lah, jika menjadi pemimpin upacara pasti dikenal satu sekolah an. Pada saat pendaftaran, aku mengajukan diri dengan alasan ku diatas. Dan pada saat itu ada bapak guru yang bernama Guyup Suroso, beliau merupakan guru terbaik dan terlucu selama hidup ku. Beliau juga sebagai pendengar yang baik dan memberi masukan bagi ku. Jadi untuk pertama kali nya aku mendaftarkan diriku sebagai pemimpin upacara.
Hari mulai
berlalu, kini seperti biasa. Aku dan bapak ku berangkat pukul 6.00 WIB. Masih sepi
jalanan yang kulihat. Namun itu sudah taka sing bagiku. Sudah terbiasa. Kini aku
memakai seragam putih, dengan kopiah hitam dan tempelan garuda emas nya. Ya,
senin ini aku akan menjadi pemimpin upacara. Memimpin upacara yang akan di
selenggarakan di sekolah ku. Rasa takut dan tubuh gemetar semakin tak
terkontrol.
Keringat mengucur deras, walau sinar matahari tak sepanas siang hari. Aku grogi. Pertama kali aku menjadi pemimpin upacara. Tak ada pengalaman dalam diriku sebelumnya. Aku hanya melihat kakak kelas ku yang menjadi pemimpin upacara sebelumnya.
Bersambung~
Keringat mengucur deras, walau sinar matahari tak sepanas siang hari. Aku grogi. Pertama kali aku menjadi pemimpin upacara. Tak ada pengalaman dalam diriku sebelumnya. Aku hanya melihat kakak kelas ku yang menjadi pemimpin upacara sebelumnya.
Bersambung~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar